Siapa Beruntung


Suatu ketika saya pernah iseng berkirim sms kepada teman-teman saya tentang suatu pertanyaan. Mungkin, dalam dunia tulis menulis sering disebut dengan angket atau apalah, soalnya saya sendiri juga tidak begitu paham. Pokoknya intinya seperti itu. Dan pertanyaan yang saya sodorkan adalah, “Menurut kamu, orang paling beruntung itu seperti apa sih..!”

Dan, seperti yang saya duga sebelumnya, jawaban mereka pun bermacam – macam dan sama sekali tidak ada yang sama. Truz, bagaimana sebenarnya orang yang beruntung itu?

=====

“Orang yang bisa merasakan nikmatnya hidup, nikmatnya sehat dan indahnya kasih sayang, selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan Alloh.”

(rismawati sarwono)

“Orang yang beruntung itu orang yang tidak mau berusaha tetapi selalu mendapat apa yang dia inginkan.”

(Fitriyani Sayyida)

“Orang yang dalam hidupnya selalu ada dalam lindungan dan Ridlo Alloh. Dam, yang demikian adalah orang yang beruntung dunia dan akhirat.”

(Ratih Asti Supriyanto)

“Orang yang jelas tahu bahwa dirinya masuk surga.”

(Jaufat Rifa’i)

“Orang yang lebih baik dari hari kemarin.”

(Dwi Anita Ihsani)

“Orang yang dalam hidupnya selalu ingat Alloh.”

(Bagus Winarko Nugroho)

“Orang yang beruntung adalah orang yang selalu merasa beruntung dalam hidupnya dan senantiasa menikmati segala keberuntungan yang dihadapi setiap hari.”

(umi latifah)

======

Yup, inilah mungkin sesuatu yang penting namun sering terlupakan. Banyak kenikmatan yang diberikan kepada kita, namun kita kurang menyadari betapa pentingnya nikmat tersebut bagi kehidupan kita. Banyak diantara kita mengeluh tentang hidupnya padahal hanya gara-gara permasalahan sepele yang dibesar-besarkan.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?”

(al Baqarah : 214)

Hal itu dikarenakan ketidakpuasan kita, hasutan, dan rasa iri kita karena selalu melihat sesuatu yang jauh berada di atas kita. Kita kurang menyadari betapa kita lebih beruntung dari semua orang yang ada di bumi ini, jika kita mau melihat sesuatu yang ada di bawah kita. Bahkan, terkadang karena sibuk melihat sesuatu yang ada di atas. Kita menjadi gila dengan semua yang terjadi. Gila karena frustasi tidak mampu menggapainya, gila dengan melakukan cara yang terlarang untuk menggapai sesuatu itu dan gila melihat semua kepalsuan untuk mengingkari dirinya.

Sudah saatnya kita menghentikan kegilaan ini dengan mengganti kegilaan kasih sayang, telusuri kembali jalan-Nya, karena Dia-lah yang memberikan rasa dan penyembuh segala dahaga serta penyakit rohani kita.

Memang warna hidup seperti rona ‘kaca mata’ yang kita pasang. Jika kita memakai ‘kaca mata’ kelabu, maka segala yang ada dihadapan kita tampak kelabu. Dalam hidup ini seakan – akan terlihat murung dan suram. Sejauh memandang hanyalah kesedihan dan kegelisahan yang akan menghadang. Dan, akhirnya hidup-pun akan terasa suram. Jika kita memakai ‘kaca mata’ bening. Maka, segala yang tampak akan terlihat jelas dan serba cerah. Hidup pun terpantul dengan indah. Karena, semua yang dilakukan ada tujuan yang jelas.

Hidup itu akan menjadi lebih baik jika kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri, berpikir baik tentang keadaaan dan berpikir baik tentang Alloh.

Jika kita berpikir baik, niscaya hasil yang dihasilkan pun akan baik pula. Berkasih sayang kepada Tuhan kita (Alloh), keluarga kita serta teman – teman kita, maka kemungkinan tanpa kita sadari kita juga akan mendapat timbal balik yang serupa.

Memang benar, orang yang beruntung adalah orang senantiasa mampu menikmati keberuntungan yang diterimanya. Terkadang banyak orang yang beruntung dari segi materi tidak bisa menafsirkan keberuntungannya tersebut. Karena, rasa tamak yang menghujam dalam hatinya, Ia selalu merasa dirinya masih jauh dari beruntung. Ia terus – menerus sibuk menggudangkan materi tanpa sadar bahwa dia tidak punya waktu untuk Tuhannya, dirinya, dan keluarganya. Hingga akhirnya ia sama sekali tidak bisa menikmati apa pun karena ajal sudah menghadang.

Sebaliknya orang yang kurang beruntung dari segi materi. Terkadang karena usaha yang dilakukan dan kerja kerasnya tidak menghasilkan hasil yang maksimal untuk keperluan hidupnya. Banyak dari mereka yang menghujat dan menganggap bahwa Alloh tidak adil kepada mereka. Perasaan kepuasan dan rasa beruntungnya sudah ditutupi dengan amarah dan keputus asaan mereka.

“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.”

(fushshilat : 49)

Dan, orang yang beruntung adalah orang yang mengetahui siapa dirinya untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya, menyadari kekurangannya dan dia menerima nikmat yang diberikan kepadanya serta Ia punya waktu luang untuk dirinya sendiri, keluarganya, orang lain dan waktu khusus untuk bercengkrama dengan Tuhannya (Alloh).

Iklan

Perihal bhubhu
...sedang berlari mengejar bus...

4 Responses to Siapa Beruntung

  1. Bendhots says:

    Kalo aq orang beruntung itu yg gimana, ya…. Hehehehe…. Masih bisa bernafas, berkedip… Sib…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: