Agar Puasa Berbuah Surga


Allah menghadiahkan surga buat orang yang berpuasa? Setiap kita tahu itu. Betapa puasa adalah ibadah yang dijanjikan pahala yang begitu besar, hingga Allah pun berkenan ‘menyuguhkan’ pahala langsung dari-Nya sendiri. Dan betapa janji pengampunan atas segala dosa selalu beriring dengan hasil kepayahan menahan derita lapar dan haus, terutama dalam puasa Ramadhan. Tetapi, begitu mudahkah surga digapai? Tentu saja tidak. Lalu bagaimana caranya? Apa upaya yang harus kita optimalkan, agar puasa betul – betul berbuah surga? Mari kita membuat perenungan bersama.

JALAN TERJAL MENUJU SURGA

Rasulullah Saw bersabda,

“Surga itu ditopang dengan hal – hal yang dibenci manusia, sementara neraka ditopang dengan nafsu syahwat.” 1

Imam An Nawawi menjelaskan, “Artinya untuk sampai ke surga seseorang harus melakukan banyak hal yang tidak disukainya. Sementara untuk sampai ke neraka, seseorang banyak mengerjakan hal yang sesuai dengan hawa nafsunya. Disamping itu, keberadaan surga dan neraka juga seolah – olah tertandingi (menjadi tak tampak), kerena dua hal itu. Siapa saja yang sanggup menjebol dinding itu, niscaya mendapatkan sesuatu dibaliknya. Menjebol dinding surga caranya dengan melakukan hal – hal yang tidak disukai. Menjebol dinding neraka, justru dengan melakukan kehendak syahwat insani…” 2

Puasa adalah media utama untuk melatih manusia mengontrol nafsunya. Wajar. Bila untuk puasa Allah menjanjikan pahala yang begitu besar. Tapi untuk menuai hasil sesungguhnya, kita tentu harus seratus persen sadar atas keberadaan jalan – jalan terjal tersebut. Ketika intisari dari hikmah puasa adalah kemampuan optimal dalam mengontrol diri, menguasai jiwa dan menata hati, maka kita harus betul – betul cemas, bila sekian lama berpuasa, kita masih teronggok di lingkaran para pemuja nafsu yang tak mengenal batas kepuasan…

NIAT YANG TULUS

“Sesungguhnya amalan itu hanya dinilai bila disertai dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran amalannya, sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan memperoleh keridhaan Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa berhijrah karena ingin mendapatkan dunia atau ingin menikahi seorang wanita maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.” 3

Niat beramal itu menjadi tulus, kalau dengan  amalan itu seorang muslimin ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya. Itulah, salah satu makna taubat yang terpenting. Kalau dalam istilah hadits. “Yakni, kalau kita ingin shalat ini berkualitas, lakukanlah shalat tersebut, seolah – olah kita akan menghadap Allah usai melakukannya.”

Demikian juga ibadah lain. Bayangkan saja, bila Ramadhan yang akan kita masuki adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita. Sehingga, kita berharap dapat melakukan yang terbaik. Untuk itu, kita perlu mengetahui sebanyak – banyaknya keutamaan dan keistimewaan pada bulan ini, agar kita mampu meraih sebanyak – banyaknya pula dari semua keistimewaan tersebut.

PERLU “PELATIHAN”

Untuk merengkuh berbagai keistimewaan bulan Ramadhan, dan berbagai keutamaan dari ibadah puasa yang begitu mulia ini, harus ada semacam pelatihan yang harus dilakukan setiap muslim dan muslimah. Menahan lapar dan dahaga secara apik dan nyaman, perlu pelatihan semenjak dini. Perlu juga pelatihan fisik dan mental yang dilakukan terus menerus, berkali – kali. Demikian juga, menjalankan ibadah – ibadah sunnah di bulan suci, seperti shalat tarawih berjamaah, tak akan mudah dilalui secara indah dan menyenangkan, kecuali melalui pelatihan kejiwaan. Dan itu akan lebih optimal, bila sudah dibiasakan semenjak usia dini.

”Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena meninggalkannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” 4

Orang tua hendaklah membiasakan anak – anaknya untuk mengerjakan puasa. Hal itu untuk melatih mereka mengerjakan ibadah dengan baik. Umar r.a. berkata kepada seorang yang mabuk pada bulan Ramadhan,

”Celaka engkau, anak – anak kami saja berpuasa!” lalu Umar mencambuknya.5

Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz bercerita tentang pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan,

”Kemudian kami mengerjakan puasa (bulan Ramadhan), dan kami menyertakan anak – anak kami berpuasa. Kami memberikan kepada mereka mainan dari bulu. Apabila salah seorang dari mereka menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu kepadanya hingga waktu berbuka tiba.”6

Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, Qatadah dan Az-Zuhri, ”Anak – anak diperintahkan shalat apabila ia sudah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kiri. Dan disuruh berpuasa apabila sudah mampu.”

Konsep yang digunakan oleh para ulama As – Salaf itu, tampak begitu berbeda dengan proses pembelajaran terhadap anak – anak di dunia sekuler, atau dalam berbagai komunitas muslim saat ini, yang lebih banyak mengedepankan toleransi secara berlebihan. Karena banyak orangtua yang ingin anaknya menjadi shalih, tapi tidak menyediakan sarana dan media yang tepat agar setiap anak dapat terbentuk menjadi generasi shalih.

Banyak anak kecil yang semenjak dini dibiasakan untuk mengenal lagu dan musik, bahkan untuk menikmatinya. Betapa bangga setiap orangtua bila anak – anak ’imut’-nya tiba – tiba bisa mendendangkan lagu kaum dewasa.

Tidak sedikit anak kecil yang semenjak dini sudah diperkenalkan dengan memikat pasangan, menggoda orang, berlenggak lenggok di atas catwalk, berpakaian seksi, dan hal – hal sejenis itu.

Banyak pula anak – anak kecil yang semenjak begitu dini sudah dididik menjadi jagoan, menjadi trouble maker, menjadi perusuh atau sejenis itu.

Berapa banyakkah di antara anak – anak kita yang semenjak dini sudah dilatih menjadi ahli shalat? Ahli puasa? Ahli qiraah? Ahli menjalankah shalat malam, ahli menyebarkan amar ma’ruf nahi munkar?

Untuk tahu betul makna puasa, dan untuk dapat menikmati pahala – pahalanya, Anda perlu melatih diri dengan banyak – banyak berpuasa.

BERBAHAGIALAH, WAHAI ORANG YANG BERPUASA

”Ada dua saat yang penuh kegembiraan bagi orang yang berpuasa. Sewaktu berbuka dan sewaktu bertemu dengan Rabbnya.” 7

Kata orang bijak, siapa pun tak mampu melakukan pekerjaan dengan baik, tanpa ia mencintanya. Dengan kata lain, ”Cintailah pekerjaanmu, niscaya kamu akan sukses melakukannya!”

Bukan hanya dalam pekerjaan duniawi, amalan akhirat juga harus dilakukan sepenuh hati. Orang yang tak berusaha menyukai dan mencintai amalannya, tak akan mampu melakukannya dengan sebaik – baiknya, apalagi bermimpi bahwa amalan  tersebut akan berbuah surga.

Maka, kita wajib menciptakan ”fun” dalam hati kita, saat kita mengerjakan amalan apa pun, termasuk berpuasa. Nabi saw sudah mengisyaratkan shalat sebagai ibadah yang paling menyenangkan buat beliau. Tak ada di dunia ini sesuatu yang lebih beliau sukai dari pada shalat.

”Hiburlah aku dengan shalat, hai Bilal!” ujar Beliau kepada sahabatnya itu, bila ingin memerintahkannya untuk mengumandangkan iqamah.

Demikian juga puasa. Ibadah ini adalah kesenangan bagi kaum ”ahlinya”. Menurut Ibnu Taimiyah, keindahan ibadah jauh lebih besar dari kenikmatan dan kelezatan makanan dan minuman.

Maka, belajarlah menikmati puasa. Kita patut menjadi sangat berbahagia, karena ada ibadah yang seindah puasa, dan sebegitu besar pahalanya seperti puasa. Bayangkan, dengan hanya diam, tak melakukan apa – apa, seseorang dijanjikan pahala sebesar – besarnya. Layakkah kita untuk tidak menyukainya?

Terkait dengan ayat berikut,

”Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur….”(Al-Baqarah: 185)

Ibnu Katsir menjelaskan, ”Artinya, agar kalian bersyukur dengan berbagai macam ibadah di bulan itu, di siang dan di malam harinya. Kalau ada ibadah yang tertinggal di siang hari, dapat digantikan di malam hari dengan ibadah lain, demikian juga sebaliknya.”8

Anda mungkin lemah dalam melaksanakan shalat malam, maka di siang hari Anda cukup tak usah melakukan apa – apa : tak usah makan, tak usah minum, tak usah bermaksiat. Cukup laksanakan shalat seperti biasa, dan Anda boleh tidur saja bila Anda merasa kelelahan. Untuk itu, Anda bisa bersenang hati beroleh pahala tak terhingga.

(Footnotes)

1 Diriwayatkan oleh Muslim (2822)

2 Syarah An Nawawi atas Shahih Muslim (XVII : 165)

3 Diriwayatkan oleh dua Imam Muhadditsin (Al Bukhari dan Muslim), diriwayatkan juga oleh Al – Humeid, Ath Thayaalisi, Ahmad, Ibnul Mubarak, Abu Dawud, At Tirmidzi, An-Nassa’i, Ibnu Majah, Malik, Ibnu Hibban, Ibnu Jaaruud, Ath-Thahaawi, Ad-Duraquthni, Al-Qudhaa’i, Al-Baihaqi, Abu Nu’aim, Al-Khatib Al-Baghdadi dan Al-Baghawi.

4 Shahih Sunan Abu Dawud (466)

5 Diriwayatkan oleh Al – Bukhari juz II:692

6 Diriwayatkan oleh Al – Bukhari juz II:692 dan Muslim juz II:798 nomor 136 dalam kitab Ash-Shaum

7 Riwayat Ahmad (10221)

8 Lihat Tafsir Al Quran Al-’Azhiem (III:399)

sumber : majalah nikah

Iklan

Perihal bhubhu
...sedang berlari mengejar bus...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: